Hampir tidak ada rumah tangga yang tanpa konflik sama sekali. Pasangan terakhir yang hidup bahagia selamanya barangkali hanya terdapat dalam dongeng seperti Snow White atau dalam film Pretty Woman. Bahkan meskipun Anda memiliki komitmen terhadap pasangan Anda, akan masih ada saat-saat ketika di antara Anda ada ketegangan, air mata, pertengkaran, ketidakcocokan, dan ketidaksabaran. Komitmen tidak menghapuskan kodrat manusiawi kita! Itu kabar baik, tetapi realistis!
Adalah sebuah kenyataan bahwa bersatunya seorang lelaki dan seorang perempuan dalam sebuah ikatan pasti menciptakan beragam masalah ketidakcocokan. Karena itu George Levinger memberikan nasihat yang indah sekali, “Yang berperan dalam membuat sebuah perkawinan bahagia bukanlah berapa banyak Anda saling berkesuaian, melainkan bagaimana Anda mengatasi ketidaksesuaian. Perbedaan-perbedaan yang sudah ada sejak sebelum perkawinan semakin tampak ketika dua orang tinggal bersama. Kita berasal dari latar belakang yang berbeda, memiliki kepribadian sendiri-sendiri, memandang dunia lewat perspektif yang berbeda, dan masing-masing memiliki kebiasaan-kebiasaan yang mungkin tidak menyenangkan bagi yang lain. Pikiran kita tidak sama, reaksi kita tidak sama, cara kita bertindak pun tidak sama. Ini bisa mengundang frustrasi. Oleh sebab itu, alih-alih ngotot berusaha agar ikatan semakin ketat, belajar untuk melonggarkannya barang sedikit.”
Dan jika Anda mengalami konflik dengan pasangan Anda maka ikutilah saran dari Oglen Nash, “Agar perkawinan Anda tetap membahagiakan dengan mangkuk cinta yang terus ada isinya, ketika Anda salah, akuilah. Namun ketika Anda benar, jangan bicara.”